REVIEW JURNAL
KINERJA PENYULUH PERTANIAN SEBAGAI PENYEBAR INFORMASI, FASILITATOR, DAN PENDAMPING DALAM PENCAPAIAN PROGRAM PENGEMBANGAN SAPI BALI (Bos sondaicus) DI KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Oleh: Emirzan Rafris (18/427777/PN/15557)

Pembangunan suatu negara tidak terlepas dari sektor pertanian terutama sub sektor peternakan. Kategori suatu negara dikatakan sistem pembangunannya berjalan baik apabila pembangunan di bidang pertaniannya berkembang, meningkat, dan mampu memenuhi kebutuhan negaranya. Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian. Pasalnya, sub sektor peternakan merupakan kebutuhan sangat penting bagi masyarakat dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Produk peternakan mempunyai nilai gizi yang tinggi terutama protein yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Keadaan tersebut menjadikan kebutuhan pangan dan gizi asal hewani pada masyarakat semakin meningkat diiringi pertambahan jumlah penduduk, peningkatan taraf hidup dan kesadaran masyarakat akan pentingnya nilai gizi yang tinggi bagi tubuh.
Pemerintah Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara melalui Dinas Peternakan Kabupaten Muna mengeluarkan kebijakan program pengembangan sapi Bali guna mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap protein asal hewani. Kabupaten Muna sangat potensial dalam pengembangan sapi Bali karena masih diminati masyarakat ternak. Ketersediaan lahan dan pakan alam yang cukup mendukung tujuan dari program pemerintah Muna diantaranya penyerapan tenaga lapangan kerja, manajemen pemeliharaan ternak yang baik, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Menindak lanjuti keadaan tersebut, pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan tentang Revitalisasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK), pada tanggal 15 Juli 2005 di Purwakarta oleh Presiden RI, hingga berhasil disahkan didalam UU No.6 tahun 2006 tentang sistem penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (SP3K).
Penyuluh pertanian berperan penting dalam pengembangan peternakan di suatu daerah karena penyuluh pertanian diharapkan sebagai agent of change serta pelaksana teknis di masyarakat. Penyuluh diharuskan mengetahui dan mampu mengakses informasi suatu teknologi termutakhir, permodalam, maupun akses pemasaran. Selain peran penyuluh dibutuhkan keterlibatan peternak dalam mendukung program pengembangan sapi Bali agar program berjalan baik.
Penelitian dilakukan di Desa Mina yang terdiri dari 4 kecamatan diantaranya Tiwono Tengah, Kusambi, Parigi, Sawerigadi, dan Lawa. Hasil data karakteristik demografi peternak binaan penyuluh menunjukkan mayoritas usia peternak di desa Muna adalah 41-60 tahun sehingga masih tergolong usia peternak masih produktif. Pendidikan peternak di Desa Muna mayoritas mencapai SMA, luas kepemilikan lahan berkisar 1,6-2,6 hektare, dengan pengalaman beternak 10-16 tahun. Hasil data kinerja penyuluh menunjukkan usia penyuluh berkisar 31-50 tahun dengan mayoritas mengenyam pendidikan S1. Sebagian besar penyuluh tidak pernah mengikuti pendidikan non formal dan lama bertugas 1-10 tahun. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan kinerja penyuluh pertanian di Kabupaten Muna belum optimal karena perannya dalam fasilitator tergolong rendah, pendidikan formal penyuluh bukan spesialisasi dalam penyuluhan sehingga penyuluh masih kurang pengetahuan dan keterampilan dalam pendidikan non formal. Hasil analisis menunjukkan semakin tinggi pendidikan non formal penyuluh semakin tinggi pula kinerja di lapangan, begitu sebaliknya. Hal ini dikarenakan pendidikan non formal tinggi akan memiliki komoetensi yang tinggi. Umur penyuluh, pendidikan formal penyuluh, dan lama bertugas penyuluh serta umur, pendidikan formal, luas kepemilikan lahan, dan pengalaman beternak peternak binaan penyuluh tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja penyuluh dalam pencapaian program pengembangan sapi Bali.

Sumber :
Surahmanto, T. Haryadi, dan Sumadi. 2014. Kinerja penyuluh pertanian sebagai penyebar informasi, fasilitator, dan pendamping dalam pencapaian program pengembangan Sapi Bali (Bos sondaicus) di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Buletin Peternakan 38(2) : 116-124

Comments

Popular posts from this blog

KEBERHASILAN PENYULUH KELOMPOK TANI GEMAH RIFAH I DENGAN METODE PENDEKATAN KELOMPOK

KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR oleh Merytania Desafira

Resume Jurnal "KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR"