Peran Penyuluhan
Terhadap Keputusan Petani dalam
Adopsi Inovasi
Sistem Pertanian Berkelanjutan
Oleh : Muna
Nurindah Fauziyyah ( 18/424407/PN/15447)
Tantangan
paling serius yang dihadapi masyarakat dunia pada saat ini dan kedepan yaitu
perubahan iklim. Salah satu dampak perubahan iklim global adalah meningkatnya
populasi hama. Dengan meningkatnya suhu bumi maka akan meningkat pula populasi
hama tanaman pangan. Meningkatnya populasi hama berarti juga akan mengurangi
produksi pangan. Hal tersebut pun
kemudian mengakibatkan ketahanan pangan terganggu.
Sebelum
menuju pembahasan tentang ketahanan pangan, perlu diketahui bahwa petani di
Indonesia digolongkan sebagai petani skala kecil yang memiliki luas lahan
dibawah 1 hektar. Selain hanya memiliki lahan yang sempit, sebagian besar
petani kecil tidak menempuh pendidikan yang tinggi, sehingga mereka tidak memiliki
pengetahuan maupun keahlian yang lebih untuk menghadapi
permasalahan-permasalahan pertanian yang dihadapinya.
Terbatasnya
pengetahuan dan keterampilan petani Indonesia, lalu dengan meningkatnya
populasi hama akibat perubahan iklim serta ditambah adanya ketergantungan
aktivitas pertanian terhadap alam serta, maka tak heran jika petani mudah terperangkap
menggunakan pestisida untuk menjaga dan meningkatkan produksi pertaniannya.
Penambahan biaya pengeluran untuk pestisida tidak dihiraukan petani demi
mengejar keuntungan dari produksi pertanian. Selain dampak finansial,
penggunaan pestisida juga dapat merusak ekosistem. Pestisida akan terurai
sangat lambat dalam tanah, udara, air dan mahluk hidup serta menetap dalam
lingkungan untuk waktu yang lama. Untuk mencari mudah dan cepatnya, petani
lebih suka menggunakan pestisida sebagai penanggulangan hama, tanpa
mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Untuk
menangani masalah tersebut, perlu dilakukan perubahan terhadap sistem
pengelolaan pertanian. Salah satunya yaitu melalui sistem pertanian
berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan merupakan konsep yang digunakan oleh
lembaga pangan dunia-FAO (Food and
Agriculture Organization), untuk menghubungkan antara masalah ketahanan
pangan dengan wacana perubahan iklim. Proses produksi pertanian yang
berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah
terhadap lingkungan. Adanya sistem pertanian berkelanjutan diharapkan dapat
meminimalkan dampak negatif dari sistem pertanian berbasis kimiawi, sehingga
keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Akan tetapi, keputusan petani untuk menerima suatu
inovasi memanglah tidak mudah. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
keputusan petani dalam mengadopsi sebuah inovasi yaitu tngkat pendidikan
petani, tingkat kesesuaian inovasi
dengan kebutuhan petani, tingkat keuntungan dan kesulitan inovasi. Petani
merasa bahwa pertanian berkelanjutan ini sulit untuk dijalankan. Mereka telah
nyaman dengan sistem pertanian konvensional yang selama ini mereka jalankan. Petani
umumnya tidak ingin terlalu mengambil banyak resiko dan ingin selalu berada di
zona aman. Selain itu, masih ada pandangan bahwa semakin banyak pestisida digunakan semakin baik
karena produksi pertanian menjadi semakin tinggi. Inilah pandangan umum yang
masih berlaku di dunia sampai saat ini termasuk juga Indonesia.
Maka
dari itu, perlu diadakan suatu penyuluhan agar sistem pertanian berkelanjutan
ini dapat diterapkan oleh petani di Indonesia. Keberadaan dan
dukungan dari penyuluhan sebagai proses pendidikan non formal, dukungan
kebijakan pemerintah, lembaga penunjang kegiatan usahatani, dukungan sistem
sosial akan mendorong petani untuk melaksanakan sistem pertanian berkelanjutan
dengan intensif. Penyuluhan terutama melalui metode demonstrasi berpengaruh
terhadap perilaku petani dalam mengadop inovasi. Umumnya mereka akan lebih
tergugah jika melihat demonstrasi langsung dari petani. Ditambah lagi, jika
demonstrasi tersebut terbukti keberhasilannya. Melalui demonstrasi tersebut, jika petani dapat
dengan mudah melihat perbedaan hasil maupun keuntungan dari sistem kovensional
dan pertanian berkelanjutan, maka petani akan semakin yakin untuk menerapkan inovasi
tersebut. Dimana dalam hal ini, sistem pertanian berkelanjutan menghasilkan
produk organik rendah zat kimia yang memiliki harga lebih tinggi dibandingkan
produk dari sistem konvensional.
Keberadaan mahasiswa dalam
penyuluhan ini juga berperan penting. Mahasiswa dengan berbekal ilmu dan
keterampilannya yang modern diharapkan dapat merubah persepsi lama petani
tentang pestisida dan mengajak petani-petani di Indonesia menerapkan sistem
pertanian berkelanjutan ini. Melalui pemikirannya yang kritis dan kreatif, mahasiswa diharapkan
dapat meningkatkan motivasi petani dalam mengadopsi inovasi sistem pertanian
ini. Para mahasiswa maupun penyuluh harus bisa mengetahui terlebih dahulu
kebutuhan dan keresahan yang terjadi di tengah-tengah petani, sebelum dimasuki
pemikiran tentang sistem pertanian berkelanjutan ini.
Mahasiswa
bisa melakukan penyuluhan ini dengan cara berdiskusi secara langsung dengan
para petani tentang solusi atau jalan tengah terhadap permasalahan ini, yakni
agar tidak terlalu bergantung dengan pestisida atau bahan kimia lainnya. Pendekatan
melalui aplikasi atau media digital juga bisa dilakukan mengingat kemajuan
teknologi saat ini. Namun, perlu diperhatikan pula tingkat penguasaan mereka terhadap
teknologi. Petani di Indonesia umumnya tidak begitu dekat dengan teknologi saat
ini. Jangan sampai dengan digunakannya perangkat teknologi justru akan membuat
petani semakin rendah motivasinya terhadap inovasi baru ini.
Maka dari itu, agar petani memiliki motivasi
menerapkan sistem pertanian berkelanjutan ini perlu dukungan dari berbagai
pihak, baik instansi pemerintah, lembaga pemasaran dan lembaga penyuluhan agar
petani dapat meningkatkan pengetahuan dan juga keterampilan dalam hal mengatasi
hama akibat perubahan iklim tanpa bergantung lagi terhadap pestisida. Dengan
demikian diharapkan para petani dapat merasakan keuntungan dari usahatani
dengan sistem yang ramah lingkungan ini.
Sumber :
Charina,A., R. A. B.
Kusumo, A. H. Sadeli, & Y. Deliana. 2018. Faktor-faktor
yang mempengaruhi petani dalam menerapkan standar operasional prosedur (SOP)
sistem pertanian organik di kabupaten bandung barat. Jurnal Penyuluhan (14) 1
: 68-78.
Comments
Post a Comment