KINERJA PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN DALAM MELAKSANAKAN TUGAS POKOK PENYULUH DI BP3K KECAMATAN BANJAR KABUPATEN TULANG BAWANG
Oleh: Qiurita Fortuna
(18/424409/PN/15449)

Permasalahan pembangunan pertanian di Indonesia meliputi: lahan pertanian, infrastruktur, benih, kelembagaan, permodalan dan sumberdaya manusia (SDM). Permasalahan dalam hal SDM adalah keterbatasan tenaga penyuluh pertanian baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Oleh karena itu, menurut Sari et al. (2017) arah kebijakan pembangunan pertanian tahun 2015-2019 adalah untuk mengatasi permasalahan SDM dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas kinerja penyuluh pertanian tersebut. Lemahnya kinerja sebagian besar penyuluh pertanian tidak lepas dari rendahnya kapasitas SDM yang ada, lemahnya kemampuan menyusun program jangka panjang dan berkelanjutan, serta lemahnya daya dukung operasional, sehingga peningkatan kinerja menjadi sangat penting, selain itu banyaknya jumlah petani binaan di wilayah kerja penyuluh pertanian dan kurangnya sarana prasarana penyuluhan juga merupakan hal yang mungkin berpengaruh terhadap kinerja penyuluh pertanian.
Untuk mengetahui kinerja penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas pokok penyuluh pertanian di BP3K Kecamatan Banjar Baru Kabupaten Tulang Bawang dan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas pokok penyuluh pertanian di BP3K Kecamatan Banjar Baru dilakukan metode pengumpulan data (wawancara yang dituangkan dalam kuesioner) dan menggunakan metode sampling. Faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan kinerja penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas pokok penyuluh pertanian adalah tingkat motivasi penyuluh, pendapatan penyuluh, jumlah petani binaan penyuluh, fasilitas kerja, bentuk sistem penghargaan, dan jarak tempat tinggal penyuluh ke WKPP (Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian).
Rata-rata tingkat motivasi penyuluh yaitu 15,01 atau pada klasifikasi sedang (13,12 – 15,57). Penyuluh pertanian di BP3K Kecamatan Banjar Baru rela mengorbankan waktu mereka yang seharusnya digunakan untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga, tetapi di gunakan untuk kegiatan penyuluhan karena kegiatan penyuluhan dilakukan pada malam hari mengikuti jadwal petani. Tingkat pendapatan penyuluh pertanian di BP3K Kecamatan Banjar Baru sebagian besar atau 71,4% penyuluh memiliki tingkat pendapatan yang tinggi. Rata-rata pendapatan penyuluh adalah Rp 4.518.571 atau pada klasifikasi tinggi. Tingkat pendapatan penyuluh pertanian sesuai dengan pangkat golongan seorang penyuluh. Penyuluh pertanian dengan tingkat pendapatan rendah yaitu satu orang merupakan penyuluh dengan status sebagai THL, sedangkan penyuluh lainnya berstatus sebagai PNS. Petani binaan penyuluh BP3K Kecamatan Banjar Baru sebagian besar penyuluh atau 85,7% memiliki jumlah petani binaan dalam klasifikasi sedikit. Rata-rata jumlah petani binaan penyuluh yaitu 377 orang petani, jumlah tersebut masih masuk dalam rentang standar yaitu idealnya penyuluh membina 200 sampai 400 petani. Penyuluh yang memiliki jumlah petani binaan yang lebih sedikit akan lebih mudah untuk melakukan pertemuan dengan petani dan informasi akan lebih mudah tersebar secara merata.
Fasilitas kerja yang dimiliki oleh penyuluh pertanian yang ada di BP3K Kecamatan Banjar Baru adalah sebesar 14,19 atau termasuk dalam klasifikasi cukup memadai. Mobilitas penyuluh dengan klasifikasi memadai menggunakan kendaraan dinas seperti motor dinas. Dana/pembiayaan kegiatan penyuluhan diberikan oleh pemerintah seperti biaya operasional penyuluh yang dapat dicairkan tiga bulan sekali. Sistem penghargaan yang diterima oleh penyuluh menunjukkan bahwa 42,9% atau tiga orang penyuluh berada pada klasifikasi tinggi. Rata-rata skor sistem penghargaan yaitu 9,03 termasuk dalam klasifikasi  sedang.
Sistem penghargaan dilakukan dengan bentuk pengakuan dan berbagai penghargaan yang diterima atau yang diperoleh penyuluh dalam pelaksanaan tugas pokok dan pengembangan profesinya. Sistem penghargaan yang di terima penyuluh pertanian bersifat positif (reward) dalam bentuk hadiah seperti piala dan juga piagam bagi penyuluh berprestasi, sedangkan negatif (punishment) yaitu berupa surat peringatan dan mutasi wilayah kerja. Sistem penghargaan diberikan oleh dinas tingkat II dan juga bupati. Interval jarak tempat tinggal penyuluh ke WKPP menunjukkan bahwa 71,4% atau lima orang penyuluh berada pada klasifikasi dekat. Jarak tempat tinggal yang dekat dengan wilayah binaan akan memudahkan penyuluh pertanian dalam melakukan kegiatan penyuluhannya, apabila dibutuhkan secara mendadak penyuluh tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke lokasi binaannya, sehingga tugas tugas yang dilaksanakan menjadi lebih efektif dan berdampak juga pada kinerja yang baik.
Pencapaian tujuan dari penyusunan program penyuluhan menurut penyuluh maupun petani yaitu kurang tercapai, karena masih ada tujuan dari program penyuluhan yang telah disusun, belum terlaksana dengan maksimal, seperti alih fungsi lahan dari lahan perkebunan menjadi lahan tanaman pangan, sumberdaya petani yang masih rendah serta pengendalian hama penyakit tanaman. Baik petani maupun penyuluh menilai bahwa pelaksanaan tugas pertemuan berkala belum sesuai, ini disebabkan oleh jadwal petani dan penyuluh yang sulit untuk disesuaikan, karena petani biasanya memiliki waktu luang pada malam hari, sehingga terkadang pertemuan berkala ini dilakukan satu bulan hanya satu kali. Pemberian informasi untuk pengembangan usahatani petani hanya sebatas disampaikan saja tanpa membagikan print out materi atau bahan informasi. Penyuluhan pertanian di BP3K Kecamatan Banjar baru dalam melaksanakan pertemuan teknis, demonstrasi dan kursus kepada petani binaannya dinilai jarang dilakukan pada dua musim tanam terakhir hal ini diakui oleh penyuluh maupun petani, dikarenakan tidak adanya teknologi baru yang harus disampaikan, juga karena keterbatasan dana/biaya pengadaan kegiatan tersebut.
Pengembangan organisasi pada petani adalah menilai apakah kelompok tani sudah terstruktur dengan baik dan kepengurusan kelompok tani telah menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan kepengurusannya. Baik penyuluh maupun petani mengatakan bahwa masih banyak petani yang enggan bergabung dengan kelompok tani, dari total jumlah petani di Kecamatan Banjar Baru yaitu 6.303 petani hanya 2.639 petani atau hanya 41,9% petani yang tergabung dalam kelompok tani.
Penyuluh maupun petani menilai bahwa ketua kelompok tani belum bisa memimpin anggota kelompok tani untuk menumbuhkan semangat keikutsertaan anggota kelompok tani dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh penyuluh pertanian seperti kegiatan rutin yang diadakan setiap bulan, dan juga masih ada kelompok tani yang tidak aktif. Latihan kepemimpinan juga jarang dilakukan, sehingga pengetahuan ketua kelompok tani dalam memimpin kelompok taninya masih kurang. Penyuluh belum memfasilitasi pengembangan media untuk penyebaran informasi karena keterbatasan media informasi yang ada, namun disisi lain disebabkan tidak adanya inisiatif bagi petani untuk membuat media yang dapat dijadikan sumber informasi bagi anggotanya, petani hanya mengandalkan penyuluh untuk memperoleh informasi, selain itu informasi yang diberikan oleh penyuluh dalam kegiatan penyuluhan pertanian tidak cukup untuk mengubah sikap, menambah pengetahuan dan keterampilan petani, karena sumberdaya petani yang rendah sehingga sulit mengadopsi inovasi dan keterbatasan media informasi yang ada.
Perlunya dilakukan kerjasama dengan lembaga lain yang dapat berupa bantuan modal, informasi, sarana pertanian ataupun teknologi baru. Pada kenyataannya tidak semua kelompok tani diberikan pelatihan untuk melakukan kerjasama dengan lembaga lain, selain itu juga permasalahan yang lain adalah keterbatasan lembaga penunjang yang ada di Kecamatan Banjar Baru, sehingga menyulitkan penyuluh untuk melatih kerjasama petani dengan lembaga lain. Petani belum melakukan kegiatan studi banding dengan kelompok tani lain yang lebih maju, dikarenakan keterbatasan dana untuk melakukannya, namun petani melakukan studi banding dengan kelompok tani yang berada di Kecamatan Banjar Baru saja untuk bertukar informasi atau pengalaman berusahatani.
Secara keseluruhan kinerja penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas pokok penyuluh pertanian di BP3K Kecamatan Banjar Baru Kabupaten Tulang Bawang termasuk dalam klasifikasi sedang. Kinerja penyuluh pertanian ini berhubungan erat dengan tingkat motivasi, pendapatan penyuluh, dan fasilitas kerja, sedangkan jumlah petani binaan, bentuk sistem penghargaan, dan jarak tempat tinggal penyuluh ke WKPP tidak berhubungan dengan kinerja penyuluh pertanian.

Sumber:
Sari, D.A., D.Nikmatullah, S.Silviyanti. 2017. Kinerja penyuluh pertanian lapangan dalam            melaksanakan tugas pokok penyuluh di BP3K Kecamatan Banjar Baru Kabupaten Tulang Bawang. Jurnal Ilmu-Ilmu Agribisnis. 5(4): 438-445.  

Comments

Popular posts from this blog

KEBERHASILAN PENYULUH KELOMPOK TANI GEMAH RIFAH I DENGAN METODE PENDEKATAN KELOMPOK

KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR oleh Merytania Desafira

Resume Jurnal "KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR"