CYBER EXTENSION: Penggunaan Media dan Kelancaran Pencarian Informasi Di Kalangan Penyuluh Pertanian Kabupaten Bogor oleh Muh. Ilham Sani (18/430449/PN/15766)


CYBER EXTENSION: PENGGUNAAN MEDIA DAN KELANCARAN PENCARIAN INFORMASI DI KALANGAN PENYULUH PERTANIAN KABUPATEN BOGOR
Jurnal Komunikasi Pembangunan Vo.17 (2)
oleh Abung Supama Wijaya, Sarwititi Sarwoprasodjo, Diah Febrina

Resume oleh Muhammad Ilham Sani
(NIM: 18/430449/PN/15766)

Pembangunan pertanian saat ini sudah berikatan erat dengan teknologi informasi. Penyuluh pertanian dituntut memiliki pengetahuan, informasi yang menunjang untuk petani, juga kemampuan cepat tanggap terhadap perkembangan teknolohi informasi. Cyber Extension merupakan salah satu perkembangan teknologi informasi di bidang pertanian.  Hal ini didasari oleh Undang-Undang No.16 Pasal 15 ayat 1c tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (SP3K) dengan materi bahwa Balai Penyuluhan memiliki kewajiban untuk menyediakan dan menyebarkan informasi tentang teknologi, sarana produksi, pembiayaan, dan juga pasar.
Cyber Extension sendiri merupakan mekanisme pertukaran informasi pertanian dalam sistem penyuluhan pertanian melalui internet yang bertujuan mempercepat arus informasi berbasis teknologi kepada petani dengan komunikasi yang interaktif. Cyber Extension ini diawali dengan dihadirkannya alamat situs http://cybex.deptan.go.id/ oleh Kementerian Pertanian. Pengembangan Cyber Extension dilakukan bukan hanya sebatas memudahkan penyuluh memberikan informasi kepada petani, namun, informasi tersebut juga dapat mengembangkan inovasi baru, dan meningkatkan produktivitas dan daya saing produk-produk pertanian.
Karakteristik para penyuluh pertanian berdasarkan sampel yang diambil di Kabupaten Bogor ditinjau dari segi umur rata-ratanya tergolong tua (berusia di atas 45 tahun) yaitu sebanyak 45,9% Menurut Anwas (2009), hal ini menunjukkan bahwa penyuluh PNS jika dikaitkan dengan masa usia pensiun fungsional mencapai 60 tahun, maka dapat diprediksikan dalam jangka waktu sepuluh tahun ke depan jumlah penyuluh akan berkurang sebanyak 28%.
Berdasarkan data yang di dapat di lapangan, rata-rata penyuluh senior kurang cakap dalam mengakses intenet. Sebanyak 46 responden penyuluh di Kabupaten Bogor  telah mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi (baik diploma maupun sarjana). Menurut Okwu dan Umoru (2009), tingkat pendidikan seseorang akan menentukan kebutuhannya terhadap akses inovasi teknologi.
Berdasarkan kepemilikan media para penyuluh pertanian di Kabupaten Bogor masih tergolong rendah yaitu sebanyak 52,5%. Rata-rata media yang digunakan berupa komputer dan handphone. Motivasi penyuluh dalam mengakses internet juga masih tergolong rendah, yaitu sebesar 20%, karena tujuannya hanya sebatas mendapatkan informasi baru. Terkait penggunaan media dan kemampuan penyuluh dalam mengakses internet berada pada kategori sedang. Kebanyakan penyuluh menggunakan komputer untuk mengakses informasi terbaru dari pusat atau sekedar berkomunikasi dengan atasan atau sesama penyuluh melalui e-mail. Yang menyebabkan tingkatnya rendah adalah, mereka jarang membagikan informasi yang mereka miliki di internet dan lebih cenderung menerima informasi dari internet.
Ketersediaan sarana akses masih dalam kategori rendah dikarenakan minimnya fasilitas penunjang. Biaya pengoperasian aksesnya tergolong pada kategori sedang dan menyebabkan penggunaan media menjadi kurang optimal. Dalam pencarian informasi, terdiri dari beberapa tahapan, yaitu; (1) Starting, (2) Chaining, (3) Browsing, (4) Differentiating, (5) Monitoring, dan (6) Extracting.
Starting merupakan tahapan awal dalam mencari informasi. Pada tahapan ini didapatkan hasil sebesar 44,3% penyuluh sudah lancar memulai tahapan pencarian informasi. Chaining merupakan tahapan dimana penyuluh menyesuaikan dan memahami informasi dari laman sumber pencarian informasi, didapatkan hasil sebesar 55,7% penyuluh telah lancar melakukannya. Selanjutnya, pada tahapan Browsing, didapatkan hasil sebesar 42,9% penyuluh telah lancer dalam mengakses fitur yang tersedia pada laman sumber informasi di internet dan telah paham setiap fungsi ikon yang terdapat pada laman sumber pencarian informasi. Berikutnya, telah didapatkan hasil sebanyak 54,1% pada tahapan Differentiating, yaitu tahapan memilah dan memilih bahasan sumber informasi dengan didasari derajat kepentingan dan ketepatan serta relevansinya dengan kebutuhan informasi yang diperlukan. Pada tahapan Monitoring, didapatkan hasil sebesar 42,9% karena penyuluh telah lancer dalam memantau dan mengawasi kebaruan dari sumber informasi melalui Cyber Extension. Tahapan terakhir adalah Extracting, dimana penyuluh yang sudah lancar mengambil keputusan sumber informasi mana yang akan dipilih sebanyak 44,3%.

Comments

Popular posts from this blog

KEBERHASILAN PENYULUH KELOMPOK TANI GEMAH RIFAH I DENGAN METODE PENDEKATAN KELOMPOK

KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR oleh Merytania Desafira

Resume Jurnal "KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR"