Cyber Extension: Penggunaan Media dan Akses Informasi di Kalangan Penyuluh Pertanian oleh Anila Indrianti

Cyber Extension: Penggunaan Media dan Akses Informasi di Kalangan Penyuluh Pertanian
Oleh: Anila Indrianti Anggraini (18/424342/PN/15382)

(Review jurnal yang berjudul “Cyber Extension: Penggunaan Media Dan Kelancaran Pencarian Informasi Di Kalangan Penyuluh Pertanian Kabupaten Bogor”)

Penyuluh pertanian memegang peran yang sangat penting dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Di era globalisasi ini penyuluh pertanian tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan dan informasi tentang pertanian yang memadai, namun juga kemampuan untuk akses dan tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi.  Salah satu teknologi informasi yang dimanfaatkan untuk menunjang sistem penyuluhan pertanian adalah Cyber extension. Cyber extension merupakan kegiatan penyebaran informasi melalui jaringan internet yang bertujuan untuk mempercepat dan memperluas jangkauan informasi.
Pada tahun 2008, Kementerian Pertanian dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor Per/02/Menpan/2/2008 Pasal 8 menyebutkan bahwa penyuluh pertanian yang terutama telah menyandang jabatan fungsional sebagai Penyuluh Pertanian Ahli memiliki tugas untuk melakukan penyuluhan pertanian melalui website. Berkaitan dengan hal ini, Kementerian Pertanian meluncurkan alamat situs http://cybex.deptan.go.id/ diikuti dengan pengadaan peralatan berupa komputer, printer, modem, dan stabilizer yang ditempatkan di kelembagaan penyuluhan kecamatan (1.090 kecamatan dari total 6.672 kecamatan). Dengan demikian cyber extension sebagai salah satu mekanisme pengembangan jaringan komunikasi, informasi, dan inovasi pertanian terprogram diharapkan dapat secara efektif meningkatkan keberdayaan penyuluh, mendukung penyampaian data dan informasi pertanian, dan mempertemukan berbagai lembaga strategis pertanian dengan penyuluh, petani, dan pihak terkait lainnya.
Keberadaan cyber extension dalam menunjang pembangunan pertanian bergantung pada kemampuan penyuluh dalam mengoperasikan fasilitas yang tersedia. Umumnya media ini lebih efektif diterapkan di daerah perkotaan dengan penyuluh yang sudah sering menggunakan media, dibandingkan dengan daerah pedesaan yang lebih jarang menggunakan media informasi. Selain itu, karakteristik penyuluh juga menjadi faktor penentu dalam pemanfaatan cyber extension. Karakteristik tersebut dapat berupa usia, tingkat pendidikan, kepemilikan media, dan motivasi penyuluh dalam memanfaatkan cyber extension. Pada jurnal yang berjudul Cyber Extension: Penggunaan Media Dan Kelancaran Pencarian Informasi Di Kalangan Penyuluh Pertanian Kabupaten Bogor
1.      Usia dan Tingkat Pendidikan
Penyuluh senior mengaku cenderung lebih sulit untuk mempelajari teknologi informasi di usia yang sudah menua dibandingkan dengan penyuluh yang lebih muda. Penyuluh senior membutuhkan waktu belajar yang cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan teknologi informasi yang ada. Hal ini berkaitan dengan tingkat pendidikan penyuluh senior angkatan dibawah 90-an yang sebagian besar belum mengenyam pendidikan tinggi.
2.      Tingkat Kepemilikan Media
Rata-rata penyuluh hanya menggunakan gawai dan komputer sebagai media penyuluhan. Komputer yang digunakan untuk mengakses internet paling banyak merupakan milik kantor karena bersifat gratis dan tampilan informasinya leih jelas. Gawai digunakan penyuluh untuk mengakses internet saat berada di lapangan.
3.      Motivasi Penyuluh
Motivasi penyuluh sampai saat ini kebanyakan untuk mendapatkan informasi baru, terutama informasi berupa pemberitahuan dari atasan terkait proses administrasi.

Selain karakteristik di atas, beberapa indikator lain yang dapat menjadi pendukung karateristik penyuluh tersebut yaitu kemampuan penyuluh dalam mengakses internet, ketersediaan sarana dan biaya operasional media, dan kegiatan pencarian informasi.
1.      Kemampuan penyuluh dalam mengakses internet
Kebanyakan penyuluh dapat mengakses komputer, namun sebagian besar hanya untuk berkirim surel dan mendapat informasi terbaru dari lembaga. Penyuluh cenderung hanya menjadi penerima informasi dan jarang membagi informasi yang mereka miliki. Penyuluh yang kurang mahir mengakses internet berpendapat bahwa mengoperasikan cyber extension lebih rumit dari pada mendapatkan informasi dari rekan atau atasan secara langsung.
2.      Ketersediaan sarana dan biaya operasional media
Ketersediaan akses internet sangat penting untuk membantu kinerja penyuluh, namun kurangnya fasilitas modem atau wifi dan sinyal yang kurang mendukung dapat menghambat akses internet. Selain itu biaya operasional media yang kurang dialokasikan juga mengakibatkan akses internet terhambat.
3.      Kegiatan pencarian informasi
Kegiatan pencarian informasi dapat dibagi menjadi starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, dan extracting. Starting merupakan tahap awal pencarian informasi yang berupa penyalaan media dan pertimbangan mengenai sumber informasi yang akan diakses. Chaining merupakan kegiatan penyesuaian penyuluh terhadap informasi yang didapatkan. Browsing merupakan kegiatan pengaksesan berbagai fitur yang tersedia di laman sumber informasi. Differentiating merupakan kegiatan memilah dan memilih informasi berdasarkan kepentingan, ketepatan, dan relevansi dengan persoalan yang dibutuhkan. Monitoring merupakan kegiatan pemantauan sumber informasi yang berupa pengelompokan informasi yang dibutuhkan dan pembaruan informasi yang didapatkan. Extracting merupakan tahap pengambilan keputusan mengenai informasi yang akan dipilih, sumber yang menurut penyuluh tepat akan dijadikan referensi utama dalam kegiatan pencarian informasi selanjutnya. Kegiatan pencarian informasi yang lancar dapat mendukung kinerja penyuluh. Apabila kegiatan pencarian informasi penyuluh kurang lancar, maka diperlukan pembimbingan kepada penyuluh terkait penggunaan media dan akses informasi.

Kemampuan penyuluh dalam menggunakan media cyber extension dan akses informasi sangat penting untuk mendukung kegiatan penyuluhan pertanian. Dalam hasil jurnal yang direview ini secara umum menunjukkan kemampuan penyuluh dalam memanfaatkan cyber extension tergolong baik. Namun ketersediaan fasilitas masih kurang memadai sehingga diperlukan peningkatan.

Sumber:
Wijaya, A. S., S. Sarwoprasodjo, dan D. Febrina. 2019. Cyber extension: Penggunaan media dan
kelancaran pencarian informasi di kalangan penyuluh pertanian kabupaten Bogor. Jurnal Komunikasi Pembangunan 17(2): 114-123

Comments

Popular posts from this blog

KEBERHASILAN PENYULUH KELOMPOK TANI GEMAH RIFAH I DENGAN METODE PENDEKATAN KELOMPOK

KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR oleh Merytania Desafira

Resume Jurnal "KAPASITAS PENYULUH PERTANIAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DI JAWA TIMUR"